Jam 06.30 pagi.
Alun-Alun Utara masih setengah bangun.
Kami berangkat -+30 orang, satu arah, tapi dengan isi kepala masing-masing.
Ini bukan sekadar gowes.
Ini semacam ruwatan kecil:
mengayuh tubuh, sambil pelan-pelan mengupas ingatan.
Kotagede: tempat semuanya dimulai (dan belum selesai)
Di Masjid Besar Mataram, waktu seperti melambat.
Langkah kaki jadi lebih pelan, suara jadi lebih dalam.
Di sini, Panembahan Senopati dulu bukan cuma mendirikan kerajaan
tapi mencoba menjawab satu hal yang sama seperti kita hari ini:
“Di mana pusat hidupku?”
Cepuri: tembok yang sudah kalah, tapi belum menyerah
Kami menyentuh sisa benteng.
Bukan bentuknya yang penting tapi bekasnya.
Tembok ini dulu membatasi siapa yang boleh masuk, siapa yang harus di luar.
Sekarang? Semua bebas lewat.
Lucu ya.
Kekuasaan dulu begitu yakin pada batas.
Waktu datang, lalu menghapusnya tanpa permisi.
Museum Kotagede: kita membaca, tapi juga dibaca
Di dalam museum, benda-benda diam.
Tapi rasanya mereka yang sedang melihat kita.
Dari Pajang ke Mataram
dari hadiah tanah ke ambisi jadi pusat dunia.
Sejarah itu bukan masa lalu.
Dia cuma cara lain untuk bertanya:
“Kamu mau jadi apa hari ini?”
Kerta - Pleret: ketika pusat dunia dipindah-pindah
Kami gowes lebih jauh. Matahari mulai naik.
Keringat mulai jujur.
Di sini, Sultan Agung pernah memindahkan pusat kerajaan.
Bukan sekali. Berkali-kali.
Karena mungkin, bahkan seorang raja pun tahu:
pusat itu tidak selalu tetap.
Kadang harus dicari lagi.
Kadang harus dibangun ulang.
Kadang harus dihancurkan dulu.
Masjid Kauman Pleret: yang bertahan tidak selalu yang besar
Istana bisa hilang.
Benteng bisa runtuh.
Tapi masjid kecil ini masih berdiri.
Sederhana. Diam.
Tapi justru paling keras kepala.
Mungkin memang begitu:
yang bertahan bukan yang megah, tapi yang dipakai untuk hidup sehari-hari.
Museum Pleret: akhir yang sebenarnya cuma jeda
Kami sampai.
Duduk. Diam. Nafas kembali ke badan.
Lalu… pepaya, semangka, jajan pasar yg rebutan.
Manis. Segar. Nyata.
Setelah semua cerita besar tentang raja, perang, dan kosmos
yang menyelamatkan kami justru buah sederhana.
Catatan yang tidak heroik
Panas. Banget.
Niatnya mau santai, tapi tubuh mulai protes.
Sebagian ingin lanjut, sebagian ingin hilang.
Tapi akhirnya semua sepakat pada satu hal:
“Yaudah… pulang aja dulu.”
Dan mungkin memang itu inti dari semua perjalanan:
kita selalu ingin pergi jauh,
tapi selalu dipanggil untuk kembali.
Terima kasih
Untuk Erson Padaripan,
untuk tim Museum Kotagede & Museum Pleret,
yang bukan cuma menjelaskan, tapi membuka pintu.
Dan untuk 30an orang yang tadi pagi memilih bangun,
memilih berkeringat, memilih menuntaskan 40an KM,
memilih ikut tersesat sebentar di dalam sejarah.
Dokumentasi
Gunakan semestinya.
Karena ingatan juga butuh tubuh lain untuk hidup.
Foto:
Angga Kurniawan
Bima Simbara
Video:
Rifqi Mansur Maya (+ editor)
Ian Alam Sukarso
Menuju Ruwat Ruwet
Ini baru pemanasan.
Yang ruwet belum benar-benar diruwat.
Pantau kami di Instagram: @ruwatruwet.show
Kalau kamu baca sampai sini, mungkin kamu juga sedang dalam perjalanan.
Tinggal pilih: lanjut… atau pulang.





































































Tidak ada komentar:
Posting Komentar